Dengan secangkir kopi panas dan asapnya yang menyapu udara, kakekku membuka lembaran pertamanya pada koran pagi. Keriput di kulitnya tampak mencolok, seolah memamerkan dirinya tak muda lagi. Di ‘umur tanah’ miliknya, masih asyik saja beliau menyesap minuman berkafein dan sepuntung rokok Marlboro.
“Walah walah.. tak habis pikir pemuda jaman sekarang. Menghalalkan segala cara untuk hal yang sia-sia. Ngerampok sana, perkosa sini. Ndeso sekali,” seruput kedua Eyang membangunkan perhatianku. Ia tepuk-tepuk keras pada salah satu bagian korannya. Seolah ada berita ber-jenaka yang menohok perhatiannya.
“Asal kau tahu saat Eyang-mu ini masih gagah dahulu. Umurku saja masih mudah dihitung pakai jari tangan ditambah jari kaki. Bunuh membunuh sudah menjadi keahlianku, Harun.”
Aku bergidik, kulemparkan tatapan serius pada beliau. “Eh? Eyang seorang pembunuh?”
Tawa berat dengan batuk-batuknya mengekang di udara mendengar responku barusan. Seolah aku bicara layaknya anak balita yang baru bisa berjalan.
“Bukan itu lah, Run. Eyangmu ini dahulu kan mantan pejuang, membela negara tempatmu tinggal ini. Kami para pemuda dahulu tidak dapat memalingkan sejenak perhatian kami pada negara ini. Kami terlanjur jatuh cinta pada sang Ibu Pertiwi. ”
Aku terenyuh. Mendengar semangat beliau, takut-takut Eyang akan melompat dari sofa dan berteriak sekencang mungkin sampai terdengar seluruh masyarakat. Koran paginya ia biarkan tergeletak di atas meja kayu. Aku pun mengecilkan suara televisi, dan memasang telinga untuk mendengar lebih banyak cerita.
“Bila anak muda masa kini menggunakan pakaian mereka untuk bersolek, maka.. oh, sebentar cucuku.. biar kutunjukkan sesuatu,” Eyang benar-benar melompat dari sofa. Namun bukan untuk melakukan ikrar perjuangan yang kubayangkan.
Beliau berlari ke dalam ruangan sakralnya, kembali lagi dengan peti lusuh di tangan. Wajahnya berseri ketika membuka penutup peti berharganya. Mengulurkan sesuatu yang tampak kuno dan bernilai dari dalam sana. Sebuah pakaian veteran.
“Pakaian ini yang kubanggakan, kusimpan dalam peti berdekade-dekade sebagai ‘saksi’. Kubiarkan darah suci sahabat-sahabat Eyang bersimbah di pakaian ini. Eyang bangga pada masa muda Eyang. Eyang bangga pada leluhur-leluhurmu yang pantang mengalah.”
Mataku berbinar mantap, mengelus pakaian veteran kecokelatan itu. Harganya tidak akan semahal perjuangan dan cinta nasionalisme yang tertanam di hati pemuda-pemuda di masa Eyangku hidup dahulu. Aku bahkan tak lekang memuji, betapa banyak bekas darah perjuangan telah bersimbah di kain berjahit para ibu yang bangga pada putera-puteri mereka dahulu.
“Jadi, Run, yang ingin Eyang sampaikan padamu saat ini,” Eyang melepaskan sematan peniti berbentuk bendera Indonesia yang telah menyangkut selama puluhan tahun di bagian kantung baju tersebut. Aku terkesiap saat tangan beliau menitikan pin bendera merah-putih itu di baju kaus putihku. Rasa banggaku semakin terbakar. Pin bendera, saksi berbagai peristiwa bersejarah itu, telah berpindah padaku.
“Era telah berubah. Tidak ada lagi bambu runcing, bom meledak di atas kepalamu bertubi-tubi, atau banjir darah. Mungkin kami para pemuda dahulu sudah menua. Bukan berarti kami lelah berjuang. Negara kita belum merdeka, Run. Orang banyak tidak tahu. Biarkan kami para pemuda terdahulu mengatakan ini pada penerus kami. Kami masih ingin melihat para pemuda saat ini ikut berjuang bersama kami. Tebarkan pesanku ini, Harun. Sadarkan teman seperjuanganmu,”
Aku mengangguk paham. Kucengkeram kuat pin bendera di dadaku dengan kobaran semangat yang tersirat. Aku tersenyum pada Eyang, dan beliau tersenyum padaku. Kami menukar kata-kata dan janji melalui senyuman kami.
Di tengah podium bergelar cahaya keemasan , aku berdiri mencengkeram dada. Merasakan debar jantung yang melarat, seolah dapat kudengar dentuman daging pemompa darah itu di dalam keheningan. Tanganku terayun ke atas dan ke bawah, daguku mendongak congkak penuh keberanian. Namun juga aku tak lupa mengekspresikan kelemahan, dengan isak tangis tanpa dusta.
“Aku berteriak di antara kekejaman para gagak hitam yang bertengger mengejek, menunggu bangkaiku tergeletak di tanah~.” Aku berpura-pura terjatuh. Berlaku layaknya seorang pelakon panggung. Para penonton saat itu terkesima. Wajah haru mereka seolah menegurku,”Bangunlah! Kasihan dirimu, Nak.”
Bait demi bait sudah terburai dengan air ludah, aku berteriak bahkan bersenandung. “Panggil kami PEMUDA yang menghabiskan darah kami dengan gentar! Panggil kami PEMUDA yang tetap maju setapak demi setapak agar tetap menikmati pangkuan Ibu Pertiwi! Panggil kami PEMUDA yang pekat akan tekad tanpa ujung pemberhentian membela negara yang membuatku jatuh hati ini!” bulir air mataku mengalir. Dapat kurasakan , renyuhan hati para penonton. Tersentuh dengan buaian kata-kata berdiksi yang kuhanturkan.
“Restui aku, Hai Pemuda-Pemudi. Menebarkan semangatku kembali dahulu kala, padamu di era yang berbeda kini. Restui aku menanamkan pesan ini padamu. Hai Pelopor di Baris Depan,” Aku seolah melihat sosok beliau tengah tersenyum padaku di bangku tak berpenghuni di antara penonton yang hadir. Kurasakan elusan angin menaikkan bulu kudukku. Sekali lagi kami bertukar senyuman.
“Lanjutkan perjuangan kami! Kibarkan bendera merah-putih dengan auman singa-mu memanggil garuda! Abdikan pada Sang Saka Merah-Putih! Jadilah pelopor di masa mudamu! Hingga nafas tak dapat kau rasakan dalam dadamu yang terluka!”
Gelegar suara bagai petir. Keringat semangat yang memacuku, bersimbah tanpa ampun. Riuh tepuk tangan beradu memenuhi ruangan. Suara nafasku terdengar berat, mendeskripsikan kelegaan serta kebanggaan.
Aku bertukar senyuman pada beliau. Eyangku yang tercinta. Kutahu ia telah dipanggil Tuhan, namun izinkan aku berkata sesuatu pada bayangannya yang semakin memudar.
“Eyang, pesanmu telah kusampaikan.” Sambil menegapkan dada, membanggakan pakaian veteran milik beliau di tengah riuh panutan yang merasa terhibur dan tersentuh,
beserta pin berbendera merah-putih tersemat di dada.
Ingin baca lebih banyak cerpen? Yuk kunjungi website sligs.com
Ingin baca lebih banyak cerpen? Yuk kunjungi website sligs.com
0 komentar:
Posting Komentar